Features, Jurnalis Warga

Balada Pekerja Pabrik Batu Bata Ujong Patihah

AcehPost.co.id – Features | Suka Makmue. Balada Pekerja Pabrik Batu Bata Ujong Patihah. Bangunan sederhana tanpa dinding yang ditopang dengan tiang kayu bulat ukuran paha orang dewasa, berjejer panjang disela-sela hutan muda. Di sekelilingnya, lubang-lubang bekas galian tanah dengan luas beragam begitu mudah dijumpai.

Sinar matahari yang turun dari langit kabupaten Nagan Raya, siang itu begitu perih di kulit. Di antara susunan ribuan batu-bata setinggi ukuran pria asia dianginkan di dinding jambo bata supaya kering sebelum dibakar dalam tungku, gerak anggota tubuh Ummi (59) dan Fauziah (45)-bukan nama sebenarnya- warga desa Ujong Fatihah, Kecamatan Kuala terlihat sangat lincah dan rapi dari dekat.

Dalam hitungan detik, satu batu bata pun kemudian siap dan langsung dipindahkan serta diatur sangat rapi diantara batu bata lain yang berjarak lima langkah dari meja kerja tempat mereka mencetak.

“Sudah lebih sepuluh tahun saya kerja kek gini, tapi kadang setiap dua bulan sekali, saya libur juga dua hari untuk hilangin capek, setelah itu masuk kerja lagi,” kata Fauziah yang lebih banyak menunduk saat berbicara.

Ujarnya pula, di desanya yang terkenal dengan pembuat batu bata, terutama bagi wanita, bagi mereka tidak ada istilah pengangguran. Meskipun sebagian banyak dari mereka yang berekonomi rendah, namun untuk memenuhi kebutuhan hidup, mereka bangga bekerja membuat batu bata yang kemudian dijual ke sebagian Aceh wilayah barat-selatan untuk material pembangunan dengan harga Rp 400 per biji.

Baca   Lowongan CPNS Aceh di Kementerian PAN-RB Tahun 2014

“Hampir semua pekerja di pabrik batu bata memang warga sini, mulai dari yang muda sampai yang tua pun tetap bekerja,” tambah Fauziah sambil memasukkan tanah liat ke dalam cetakan yang sudah dilumuri pasir halus untuk mempermudah saat dikeluarkan.

Suara cetakan terbuat dari kayu yang berantuk dengan meja kerja menjadi tanda tersendiri bahwa tanah liat yang sudah dalam cetak siap untuk dipotong di bagian atasnya. Hanya sekali ayunan alat pemotong berupa kawat yang tiap ujungnya diikat di kedua ujung kayu, maka jadilah batu bata yang masih basah. Proses inilah yang terus menerus dilakukan oleh kedua wanita tersebut.

Mengenai upah pekerja, kata Fauziah, setiap biji batu bata yang dihasilkan oleh tangan pekerja diupah seharga Rp 60/biji. Beruntung kalau orangnya masih kuat, dalam sehari paling sedikit seribu biji batu bata mampu dihasilkan. “Kalau kemampuan saya dan Ummi paling hanya 500-700 biji saja dalam sehari, itu pun kalau masuk kerja sejak pagi dan pulang sore,” ungkap perempuan beranak dua tersebut.

Fajri (25), pengusaha pabrik batu bata ditemui di pabriknya mengatakan, selain kaum pemuda dan kaum ibu yang aktif bekerja, ada juga mahasiswa dan mahasiswi yang sengaja bekerja di pabrik batu bata untuk memenuhi kebutuhan pendidikannya. Hanya saja, bagi mereka hanya bekerja paruh waktu kalau bukan hari libur. Namun demikian, itu sudah sangat saling membantu katanya.

Baca   Lowongan kerja Bank Indonesia Jalur Kasir Tahun 2014

Tentang bahan bakar yang digunakan berupa kayu bulat, kata Fajri, kayunya memang dari kawasan hutan atau kebun yang ditebang di sekitar Kabupaten Nagan Raya atau kabupaten tetangga. “Kami tidak memesan kayunya, biasanya penebang kayu itu sendiri yang datang menawarkan ke setiap pemilik pabrik,” jelasnya.

Untuk satu truk sedang kayu bulat berbagai ukuran, penyedia kayu bakar menjualnya Rp 600 ribu. “Itu tahan selama tiga hari pembakaran di dapur bata dengan jumlah 15.000-30.000 biji batu bata setiap pembakarannya,” jelas pemuda yang terdaftar sebagai mahasiswa  di Universitas Teuku Umar Meulaboh ini.

Fajri sendiri mengakui, jika bahan bakar dapur batu bata masih saja menggunakan kayu yang sebagian diambil dari kayu hutan, bisa saja peluang rusaknya hutan semakin besar dan akan berdampak buruk bagi masyarakat dan lingkungan. “Mestinya pemerintah sudah harus memperkenalkan teknologi baru untuk memasak batu bata, contohnya oven pembakaran batu bata sebagai pengganti tungku yang sekarang, itu akan lebih baik untuk lingkungan,” katanya.

Sejenak, lelaki berkulit sawo matang ini mengajak untuk membayangkan jumlah kayu yang dihabiskan untuk bahan bakar di pabrik batu bata. Di desanya saat ini, ada lebih seratus pabrik batu bata yang masih aktif, dan setiap bulannya memerlukan satu hingga dua truk kayu log. Dan kegiatan ini sudah dilakukan sejak 20 tahun lalu, tentu kayu yang dihabiskan sudah jutaan kubik lebih.(Rmj/AP)

Baca   Peluncuran Buku Mahasiswa

Sumber: FORMAGUP (Forum Mahasiswa Gampong Ujong Patihah)


Berikan komentar tentang berita diatas?

Loading Facebook Comments ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *