Sastra

Cerpen: Bola Ranjang oleh Kartika Catur Pelita

Begadang nonton televisi, siaran sepakbola semalaman, lalu ketiduran, dan lupa mematikan TV. Membuang kulit kacang dan remeh temeh roti serta abu rokok sembarangan. Minuman kopi tumpah di red carpet pada ruang tamu. Inilah kebiasaan-kebiasaan buruk suamiku.
Jengkel aku mematikan pesawat televisi dan membangunkan suamiku. Lalu membersihkan ruang tamu sambil ngedumel. Sebelum aku masak di dapur dan mandi. Sebelum aku berangkat kerja, mengajar. Sebagai guru Bahasa Indonesia di SMP swasta di Kota Pesisir ini.

Seperti biasanya Mas Ivan tak menanggapi kicauanku. Dia merasa tak bersalah. Suamiku yang ganteng itu malah asik menyendoki nasi goreng dan memasukkan ke mulutnya.
“Mas Ivan denger enggak sih omongan Tia?”
“Dengar sayang. Lalu…”
“Lalu?”
“Kamu tahu dong sayang, mas kan suka nonton bola. Apalagi sekarang ada World Cup. Masa sih mas gak boleh nonton bola?”

“Siapa yang ngelarang?”
“Iya, iya.”
“Tia kan cuma ngingetin Mas Ivan. Kalau nonton bola jangan lupa matiin teve, listrik mahal, mas. Trus kalau makan dan minum jangan buang sampah sembarangan. Kan sudah ada tempat sampah. Jangan jorok ah mas.”

“Iya, iya deh.”
“Mas sukanya bilang iya, tapi gak pernah dengerin omongan Tia.”

Aku menghela nafas panjang usai mengkuliahi suamiku. Kadang aku kasihan kalau bersikap keras dan cerewet padanya. Tapi sebatas tujuanku untuk kebaikan, show must go on lah. Aku memandangi suamiku memohon kemengertiannya. “Seharusnya Mas ngerti yang Tia inginkan.”

“Iya, mas ngerti sayang. Mas janji, Tia sayang…”
Mas Ivan tersenyum dan membereskan peralatan makan yang barusan kami gunakan untuk sarapan pagi. Hendak dicucinya piring, sendok, mangkok, gelas itu ke dapur. Aku buru-buru bangkit, mencegahnya. “Biar Tia yang mencucinya, Mas.”

Baca   Puisi: Perihal Aku

“Kamu kan sebentar lagi hendak berangkat, ntar telat.”
“Tapi mas Ivan gak marah gara-gara omongan Tia tadi kan?”
“Nggak.”
“Serius?”
“Duaratus rius.”
“Bener?”
“Suer!”
“Mas janji…?”
“Janji. Tapi kalau mas Ivan gak lupa ya Tia sayang…”

Tersenyum menggoda, seraya mengerdipkan mata-merasa menang-Mas Ivan melenggang meninggalkan ruang tamu. Tinggalah aku yang keki merasa dipermainkan. “Dasar mas Ivan jelek! Dasar mas Ivan jorok!”

Aku mengejar suamiku. Aku harus membuat perhitungan. Akan kugelitiki mas Ivan sampai dia mohon ampun! Inilah pernik-pernik kehidupan rumah tangga kami. Aku yang suka ngomel dan marah melihat kebiasaan buruk suami. Mas Ivan yang selalu berjanji akan mengubah sikapnya. Tapi janjinya bagai tetesan embun terpercik sinar matahari.

Anehnya keadaan ini berlaku dan berlalu seiring hari yang berganti minggu, menanjak bulan dan melewati tahun demi tahun. Tanpa terasa sudah lima tahun sudah kami mengayuh bahtera rumah tangga. Kadang aku berpikir, mungkin kelak kalau kami sudah punya momongan, mungkin sikap kami akan berubah. Tak lagi mementingkan ego, mau menang sendiri.

Kami mungkin nanti akan lebih bertanggungjawab pada makna perkawinan, yang menurut orang bijak, bahwa kita harus bisa menerima kelebihan dan kekurangan pasangan kita masing-masing. Wow! “Tia berangkat, Mas,” aku pamit. Seperti kebiasaanku, mencium kedua pipi bakpao suamiku…dan juga tangannya yang kokoh dan berbulu khas lelaki.

“Hati-hati ya Tia sayang, “ Mas Ivan berpesan seraya mengelus-elus pundakku dan rambutku. Kelembutan dan perhatian kasih sayangnya, wuih hatiku kleper-kleper. Mas Ivan adalah lelaki idaman bagi seorang perempuan. Beruntung aku memilikinya!

“Siang ini mas enggak bisa jemput kamu sayang…”
“Tia ngerti…kan motornya rusak. Mas Ivan juga jaga toko baik-baik, yach. Kalau melayani pembeli yang ramah. Jangan pasang wajah galak-galak!”

Baca   Puisi: KUDETA

Aku sempat mencandai suamiku, sebelum melangkah ke perempatan jalan, mencegat angkot jurusan sekolah tempat aku mengajar. Selama perjalanan naik angkot aku berpikir tentang suamiku. Sudah tiga tahun ini mas Ivan selalu berada di rumah. Bukan, bukan menganggur. Mas Ivan mengelola toko kelontong milik kami. Padahal sebelumnya mas Ivan manager sebuah bank terkenal. Tapi semenjak bank terkena likuidasi, Mas Ivan terkena imbasnya. PHK

Dengan modal uang pesangonnya mas Ivan membuka toko kelontong di rumah kami-di sebuah perumahan di pinggiran Kota Pantai ini. Seiring waktu toko berkembang pesat. Omset penjualan meningkat. Otomatis pendapatan meningkat.

Ini semua karena kerja keras mas Ivan. Makanya aku kadang merah telinga jika ada orang yang membandingkan pekerjaan mas Ivan yang dulu dan sekarang. Antara pegawai bank dan pengelola toko. Atau ada orang yang membandingkan pekerjaanku lebih keren daripada pekerjaan suamiku. Mereka tak tahu bahwa keuntungan toko kelontong lebih besar daripada pendapatanku sebagai guru honorer.

Kepalaku terasa pusing sebelah. Migrenku kumat. Aku tidak bisa mengajar sampai siang. Aku harus pulang. Aku minta izin pada Kepala Sekolah. Aku pulang naik angkot. Ketika sampai rumah dalam keadaan sepi. Toko kelontong tak ada yang menunggu. Satu lagi kebiasaanku suamiku, meninggalkan toko tanpa menutup pintu. Bayangkan kalau ada penjahat yang merampak rumah kami? Coba bagaimana kalau ada orang jahat yang menguras toko. Mas Ivan apakah tak berpikir jika di zaman sekarang kejahatan banyak bertebar di sekitar kita. Kadang kejahatan terjadi karena keteledoran kita. Kebiasaan buruk kok dipelihara sih?

Baca   Puisi: Peluh dan Hilang

Aku harus mengingatkan mas Ivan! Aku harus menegurnya!
“Mas Ivan!” aku mencarinya ke kamar mandi. Kosong. WC? Melompong. Dapur? Tak berpenghuni!

Mungkin mas Ivan ada keperluan mendadak ke luar rumah? Aku memutuskan untuk istirahat ke dalam kamar tidur. Hendak minum obat. Kepalaku kembali terasa senut-senut. Ayunan kakiku mati di depan pintu kamar. Ketika aku mendengar suara yang berasal dari kamar tidur. Mas Ivan dan suara seseorang….?

Gila, hari siang gini mas Ivan dan orang malah asik nonton bola di kamar pula. Keterlaluan. Ini sudah tak bisa ditolerir. Aku harus menegurnya. Kalau perlu memarahinya!

Mas Ivan! Aku membuka pintu dengan kasar. Tapi sesaat kemudian aku hanya serupa arca terbuat dari batu kali-dan terlongong ketika sepasnag mataku berpusar pada pemandangan nyata yang ada dalam kamarku.

TV menyala. Layar kaca menayangkan sebuah pertandiangan sepakbola. Tapi mengapa semua pemainnya tanpa sehelai benang? Sama seperti yang terpampang di ranjang. Suamiku dan seorang pria bermain bola ranjang. Bergumul. Bergulat. Berpeluh-peluh. Seperti dua ekor belut mempermainkan bola di atas ranjang.

***

Kota Ukir, 18 Agustus 2014

Cerpen Bola Ranjang oleh Kartika Catur Pelita


Berikan komentar tentang berita diatas?

Loading Facebook Comments ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *