Opini

Cita-cita Sang Ibu

ciita-cita ibu

Cita-Cita Sang Ibu

Oleh: Muhammad Salda

Anak merupakan anugerah yang Maha Kuasa, dimana anak adalah titipan sang ilahi sebagai titasan kesempurnaan dalam sebuah keluarga, anak sebagai buah cinta sepasang suami istri yang sudah sah menurut agama dan negara, anak juga sebagai pelagi dalam miniatur kecil yang dipimpin oleh seorang laki-laki dalam sebuah keluarga. Allah memberikan keindahan kepada setiap pasangan yang sudah melakukan keabsahannya dengan ijab kabul dengan titipannya kepada mereka yang di kandung oleh seorang istri selama sembilan bulan dan menjadikan ia sosok wanita sempurna nantinya yang akan di sebuat sebagai malaikat di dunia di dalam kehidupannya, yaitu “Ibu”.

Ibu adalah sosok malaikat yang manjadi sandaran si anak ketika ia terlahir ke dunia. Sebelum si anak melihat dunia ia sudah membuat janji dengan Tuhan-Nya, dan menacari tau bagaimana keadaan di dunia sebelum ia membuka mata untuk melihat kenyataan nantinya. Disanalah Allah menceritakan keadaan di dunia, dan berdialog dengan janin yang akan menjadi seorang manusia yang akan lahir kedunia sebagai manusia baru.

Kata demi kata ia tanyakan kepada Tuhan-Nya untuk memastikan kejelasan dirinya, sebelum ia keluar dari rahim seorang wanita yang akan menjadi malaikatnya dan kemudian yang akan dipanggilnya dengan sebutan Ibu. Setelah ia puas dengan jawaban dan kepastian yang berikan Allah kepadanya maka si cabang bayi pun sudah siap untuk di lahirkan ke dunia, untuk menjalani kehidupan barunya kembali bersama malaikat yang sudah dijanjikan oleh Tuhan-Nya. Sebagaimana janji Allah, ibu adalah tempat ia bertnya ketika ia tidak tahu arah dan ibu juga sebagai tempat ia menerima kasih sayang dari Tuhan-Nya melalui perantaraan seorang ibu.

Baca   Apa Saja Yang Dimakruhkan Saat Puasa?

Di atas dunia, ibu yang membesarkan seorang anak, ibu yang memberikan air mata, ketika melihat seorang anak yang akan menjadi harapannya dimasa senja. Ibu adalah orang yang tidak mengenalkan rasa lelah dan sakit kepada anaknya, ibu orang yang selalu memberikan curahan kasih sayang kepada anaknya walau ia sedang terluka, ia hanya mengharapkan anaknya bisa selalu tersenyum sebagai penawar rasa sakitnya yang tidak bisa ia ungkapkan, hanya air mata ia tumpahkan yang mengalir di atas pipinya tetes demi tetes dengan senyuman yang bagitu lembut ketika melihat kebahagian seorang anak yang ia banggakan dapat bahagia disisinya, dan semua itu adalah harapannya yang begitu kecil untuk dapat bahagia dengan seorang yang ia cintai dengan air mata.

Waktu yang bergulir dan dimakan oleh usia, seorang anak pun semakin besar dan dewasa, seiring hal tersebut harapan yang sebelumnya kecil untuk dapat bahagia dengan anaknya kini bertambah, dimana seorang ibu berharap anak yang telah ia besarkan bisa menjadi sebaliknya yaitu sandaran ia di masa tua, dan itulah sebuah cita-cita seorang ibu yang terakhir dapat dibahagiakan oleh sorang anak yang telah ia besarkan dengan air mata mulai dari san anak membuka mata melihat dunia sampai kini ia telah besar, ia tak sadar usianya telah dimakan waktu bersama anak yang ia besarkan.

Seorang ibu tidak pernah berharap yang lebih dari anaknya, melainkan harapan di masa senjanya si anak mau mengakuinya, sebagaimana kasih sayang yang telah ia berikan dan curahkan bertahun-tahun lamanya yang tidak sanggup di bayar oleh seorang anak, tanpa mengenal waktu siang dan malam, tidak tidur ketika si anak sakit dan doa yang selalu ia panjatkan kepada yang Maha Kuasa untuk kesembuhan buah hatinya. Air mata yang tak pernah henti ia luapkan ketika memohon kepada Allah agar anaknya kelak menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Semua itu ia lakukan dengan begitu tulus tanpa mengharapkan imbalan yang setimpal dari anaknya ketika si anak sudah dewasa kelak.

Baca   Kapankah Kita Wajib Berpuasa?

Kini anaknya sudah dewasa, dan sudah mampu untuk mengikuti jejak orang tua terdahulu yaitu membina keluarga yang baru, dimana si anak sudah siap menghidupi diri dan orang yang harus ia bebani, kini kewajiban seorang ibu telah tuntas untuk menjadi malaikat si anak di dunia. Saat itu air mata ibu kembali membasahi pipinya, seakan-akan kesempurnaan hidupnya di cabut oleh Allah. Keperihan hatinya hanya dapat dilukiskan dengan air mata kerutan wajahnya yang tidak sanggup ia tutupi. Luapan kasedihannya kini bukan dengan senyuman tetapi dengan jeritan hati dan jiwa, dimana ia merasakan kensendirian yang mendalam bagai kepompong yang sudang menjadi kupu-kupu. Dalam kepahitan yang ia rasakan ada satu pertanyaan “apakah kupu-kupu itu akan tau dimana tempat asal ia ditetaskan, sebelum ia menjadi kupu-kupu yang indah yang dapat terbang mejelajahi jagat raya ini?” semua itu masih menjadi tanda tanya dalam benak seorang ibu sebagaimana cita-cita awal.

Setiap ibu mempunyai cita-cita terhadap setiap orang anak, tetapi cita-cita itu masih tertutup oleh lembaran hitam pekat yang belum bisa dilihat banyangannya. Namun apapun itu ibu adalah sosok malaikat yang diberikan anak oleh Allah untuk merawat dan menjaga titisan yang diamanahkan di dunia. Allah juga telah menjajikan berjuta kebahagian di balik itu semua yang tidak terfikirkan oleh manusia, akan tetapi semua itu juga bisa menjadikan sebuah ujian bagi seorang ibu ketika sebuah harapan kecilnya tidak tercapai dengan sempurna. Semua itu adalah kehendak Allah yang harus diterima oleh seorang ibu, manis dan pahitnya, anak tersebut ketika dewasa kelak apakah akan menjadi mimpi indah atau menjadi mimpi buruk di masa senja orang tuanya. Dan kita sebagai anak seharusnya selalu mendoakan kedua orang tua agar mereka selalu bahagia sebagimana mereka membahagiakan kita sewaktu kita membuka mata sampai kita menjadi seorang manusia yang utuh. Kezaliman seorang anak yang tidak pernah mengenal orang tua terutama ibu akan menjadikan kegagalan hidupan kita sebagai anak di dunia dan akhirat, karena pada hakikatnya kesuksesan seorang anak itu berawal daripada seorang ibu.

Baca   Konseptual dan Prosedural yang salah adalah racun bagi generasi

 

(Penulis merupakan mahasiswa program studi Hukum Keluarga di UIN Ar-Raniry Banda Aceh)


Berikan komentar tentang berita diatas?

Loading Facebook Comments ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *