Banda Aceh, Fokus Berita

Ilyas Pase Ditangkap Intel Kejaksaan di Medan

Ilyas Pase Ditangkap Intel Kejaksaan di Medan

acehpost.co.id – Banda Aceh | Mantan Bupati Aceh Utara, Teuku Ilyas A Hamid alias Ilyas Pase ditangkap intel Kejaksaan di kediamannya, di Pondok Seng Diradarma No B.26, Tuntungan 1, Medan, Senin (13/4/2015) sekitar pukul 19.30 WIB. (baca juga Ditangkap di Medan, Ilyas Pase sore tadi tiba di Aceh).

Dikutip dari tribunnews.com, tersangka kasus dugaan korupsi pinjaman daerah Pemkab Aceh Utara sebesar Rp 7,5 milyar ini ditangkap petugas gabungan dari Intel Kejagung dan Intel Kejati Sumut setelah hampir dua bulan menjadi buron (DPO) Kejati Aceh.

Humas Kejati Sumut, Chandra Purnama menjelaskan, Ilyas Pase terbelit kasus pinjaman ke kas daerah sebesar Rp 7,5 miliar TA 2009 saat menjabat Bupati Aceh Utara periode 2007-2012. Menurutnya, sejak ditetapkan tersangka oleh Kejati Aceh, Ilyas Pase tidak pernah hadir memenuhi panggilan penyidik. Kemudian, Kejati Aceh pada Februari 2015 menetapkan status DPO terhadap tersangka Ilyas Pase.

“Sudah dipanggil sesuai prosedur tersangka tidak pernah datang ke Kejati Aceh. Februari 2015 Kejati Aceh berkoordinasi ke Intel Kejagung mengeluarkan DPO terhadap yang bersangkutan,” kata Chandra dikonfirmasi via selular, Senin malam.
Info yang didapat Chandra dari Kejati Aceh, Ilyas Pase yang menjabat sebagai Bupati saat itu, meminjam uang kas daerah Pemkab Aceh. Namun penggunaan uang tersebut tidak bisa dipertanggungjawabkan penggunaannya.

“Info yang kita dapat dari penyidik Kejati Aceh, pinjaman-pinjaman oleh Bupati ke kasda (kas daerah), atau ke bagian keuangannya sepanjang tahun 2009. Saat dia Bupati mengambil-ngambil uang hingga mencapai Rp 7,5 miliar, dan terakhir tak bisa dikembalikan,” katanya.

Baca   BPPA Tuntut Zaini Abdullan Lengser Dari Jabatan Gubernur Aceh

Apakah uang yang dipinjam untuk kepentingan pribadi?
“Ya iyalah. Kas bon lah istilahnya itu. Karena kas bon terus, akhirnya devisit keuangan Pemkab Aceh Utara. Pengambilannya memang cicil, tapi partai-partai besarlah, hingga totalnya Rp 7,5 miliar,” jawabnya.

Ditanya apakah kejaksaan sudah mengkonfirmasi uang tersebut digunakan untuk apa, Chandra mengaku belum tahu sampai kesana.
“Itu nantilah, karena sudah masuk materi biar penyidik Kejati Aceh yang mendalami. Sekarang mereka sudah menuju Kejati Sumut untuk segera membawa tersangka ke Banda Aceh,” katanya.


Berikan komentar tentang berita diatas?

Loading Facebook Comments ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *