Simeulue

Kepala Puskesmas Simeulue Tengah Bantah Telantarkan Pasien IGD

SIMEULUE – Terkait pemberitaan dengan judul Pasien IGD Telantar di Puskesmas Simeulue Tengah, Kepala Puskesmas Simeulue Tengah, Kabupaten Simeulue, Amris, membantah pihaknya telah menelantarkan pasien laka lantas atas nama Julisman tanpa ada tindakan medis.

Menurut keterangan tertulisnya kepada media atjehlink, Rabu (10/9/2014), Amris menjelaskan kronologi kejadian tersebut dari awal pasien masuk ke ruang UGD Puskesmas Simeulue Tengah hingga diantar pulang ke rumahnya dengan menggunakan Ambulance dan tetap didampingi perawat.

“Apa yang disampaikan kerabat pasien ke media tidak sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan. Tidak benar kami menelantarkan pasien hingga tiga jam lamanya di ruang UGD tanpa perwatan medis dari perawat maupun dokter,” sebut Amris.

Justru yang sebenarnya terjadi, terang Amris, begitu pasien Julisman tiba di Puskesmas, Kamis (4/9) sekira jam 17.00 WIB, perawat yang bertugas langsung menerima dan memberi perawatan dengan membersihkan luka pasien. Selanjutnya perawat segera menghubungi dokter. “Lima menit kemudian dokter masuk memeriksa kondisi pasien dan memberikan terapi sesuai prosedur medis.”

“Sebenarnya pasien sudah diperbolehkan pulang dan dianjurkan menjalani rawat jalan saja mengingat luka pasien yang tidak begitu parah. Tapi karena domisili pasien berada jauh dari Puskesmas dan keluarga pasien belum ada yang datang, maka dokter menyarankan agar pasien dirawat di ruang perawatan dan dipasangi infus,” ungkapnya.

Baca   IPPELMAS Banda Aceh Himbau Mahasiswa Segera Lengkapi Berkas Beasiswa

Namun saat itu, sambung Amris, pasien menolak untuk masuk ruang rawat dan diinfus dengan alasan ingin menunggu keluarganya tiba terlebih dahulu dari daerah Langi. Hingga jam 21.00 WIB, keluarga pasien juga belum kunjung tiba.

“Akhirnya pasien bersedia masuk ruang rawat II, tapi belum bersedia diinfus dengan alasan yang sama. Di sana, pasien beristirahat dengan tenang tanpa ada keluhan, sementara perawat standby di ruang jaga dengan sesekali melihat pasien dan keluarga yang ditunggu,” sebutnya.

Sekira pukul 24.00 WIB, keluarga pasien pun datang. “Yang terjadi kemudian, keluarga pasien menuding kami menelantarkan pasien, meskipun perawat telah memberi penjelasan. ‘Jangan tanyakan pada pasien apakah dia mau dinfus atau tidak, langsung saja pasang infusnya’,” ungkap Amris mengutip pernyataan pihak keluarga pasien.

Ia menambahkan, setelah mendengar respon pihak keluarga, petugas melakukan konsul kembali dengan dokter yang saat itu tengah berada di mess dokter. “Dokter dengan segera menganjurkan dipasang infus kepada pasien sesuai dengan instruksi sebelumnya.”

Masih menurut Amris, keesokan harinya pukul 09.00 WIB, dokter masuk ke ruangan rawat untuk memeriksa perkembangan kondisi pasien yang pada saat itu sedang sarapan pagi. Setelah diperiksa, dokter memutuskan pasien sudah bisa menjalani rawat jalan dan menanyakan kepada pasien apakah sanggup pulang atau masih ingin dirawat lagi.

“Pasien dan pihak keluarga pun setuju dan memutuskan untuk pulang ke rumah dan akan menjalani rawat jalan saja. Dokter pun memberikan obat untuk dibawa pulang. Kemudian pasien diantar dengan Ambulance dan tetap didampingi perawat,” demikian penjelasan Amris berdasarkan keterangan perawat dan dokter jaga pada saat itu. (al3)


Berikan komentar tentang berita diatas?

Loading Facebook Comments ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *