Opini

Konseptual dan Prosedural yang salah adalah racun bagi generasi

Oleh Fitra Muliani

Memperoleh pendidikan adalah hak bagi setiap manusia demi kelangsungan hidup dan menjadi pribadi intelektual dan berkualitas. Sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 bahwa salah satu tujuan dibentuknya NKRI adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Upaya untuk mencapainya dilakukan melalui penyelenggaraan pendidikan. Menjadi bangsa yang maju adalah tujuan yang ingin dicapai oleh setiap negara. Sudah menjadi suatu rahasia umum bahwa maju tidaknya suatu negara dipengaruhi oleh faktor pendidikan. Pendidikan merupakan proses mencetak generasi penerus bangsa yang berkualitas. Indonesia adalah salah satu Negara berkembang di dunia yang masih mempunyai masalah besar dalam dunia pendidikan. Kita mempunyai tujuan bernegara, yaitu “mencerdaskan kehidupan bangsa” yang seharusnya menjadi pondasi dalam perkembangan pembangunan, kesejahteraan dan kebudayaan bangsa. Namun yang masih kita rasakan sekarang adalah ketertinggalan didalam mutu pendidikan. Apa yang menjadi dasar dari permasalahan tersebut ?.

Untuk menjawab pertanyaan diatas, penulis mencoba membuka wawasan dan kesadaran pada salah satu dasar masalah yang dihadapi dan masih berkembang saat ini, permasalahannya adalah Pemahaman konseptual dan prosedural yang salah untuk beberapa bidang ilmu, Namun dalam hal ini penulis mengambil kasus khususnya dibidang matematika.Seperti yang kita ketahui Matematika adalah ratunya ilmu pengetahuan dan merupakan salah satu prestasi besar umat manusia. Dengan meningkatkan kemampuan pola pikir manusia, matematika telah memfasilitasi perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, teknik, bisnis, pemerintah, dll. Untuk hal tersebut maka SDM (Sumber Daya Manusia) sangat berperan dalam hal ini, kompetensi yang dimiliki oleh SDM dalam suatu organisasi, akan menentukan kualitas SDM yang pada akhirnya akan menentukan kualitas kompetitif suatu bangsa.

Dengan demikian untuk membentuk pola pikir intelektual pada SDM diperlukannya kecakapan matematika yang meliputi pemahaman konsep dan prosedural. Matematika bukanlah sekedar kumpulan angka, simbol, dan rumus yang tidak ada kaitannya dengan dunia nyata. Justru sebaliknya, matematika tumbuh dari dunia nyata. Tanpa disadari banyak masalah dalam kehidupan sehari – hari yang menggunakan konsep pemahaman matematika untuk mencari solusinya. Kecakapan matematika dibutuhkan dalam menghadapi tantangan global. Seperti yang dikemukakan oleh Jeremy Kilpatrick (NRC 2001) pada bukunya “Adding It Up;Helping Children Learn Mathematics” bahwa Pemahaman konseptual mengacu pada pemahaman yang terintegrasi dan fungsional terhadap ide – ide matematika, dengan kata lain pemahaman konsep merupakan penguasaan terpadu terhadap gagasan–gagasan matematika.

Baca   Budaya Malu Korupsi

Matematika yang diajarkan di sekolah, berorientasi pada pentingnya pendidikan dan perkembangan IPTEK. Bagian–bagian matematika yang diterapkan adalah matematika yang menata nalar, membentuk kepribadian, mampu mengaitkan matematika kedalam permasalahan dalam kehidupan sehari–hari dan menyelesaikan permasalahan tersebut.

Menurut Sanjaya (2009) “Pemahaman konsep adalah kemampuan siswa yang berupa penguasaan sejumlah materi pelajaran, mampu mengungkapkan kembali dalam bentuk lain yang mudah dimengerti, memberikan interprestasi data dan mampu mengaplikasi konsep yang sesuai dengan struktur kognitif yang dimilikinya”. Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa pemahaman konseptual adalah mampu membaca situasi matematika dengan cara yang berbeda dan mengetahui representasi untuk tujuan yang berbeda pula.

Tingkat pemahaman konseptual siswa yang terkait dengan kekayaan dan luasnya hubungan yang telah mereka buat, dimana siswa mampu mengaitkan pengetahuan yang telah mereka miliki dengan pengetahuan baru. Sedangkan prosedural adalah pengetahuan tentang cara untuk memperkirakan hasil prosedur. Kelancaran prosedural mengacu pada pengetahuan tentang prosedur (langkah–langkah), pengetahuan tentang kapan dan bagaimana menggunakannya dengan tepat, dan keterampilan dalam melakukan prosedur secara fleksibel, akurat dan efisien. Dimana skill untuk melakukan prosedur secara fleksibel, akurat dan efisien merujuk pada performing dalam menjalankan langkah–langkah pada suatu kegiatan.

Pemahaman konseptual dan prosedural tidak dapat dipisahkan, kerena dua hal tersebut mempunyai relasi yang cukup kuat
dan saling melengkapi satu sama lain. Dalam hal ini Guru menginformasikan konsep dasar dan proseduralnya, kemudian siswa dapat mengembangkan pola pikir secara mental untuk menyelesaikan persoalan. Tanpa kelacaran prosedural yang cukup, siswa akan mengalami kesulitan untuk memperdalam pemahaman terhadap gagasan matematika atau memecahkan masalah matematika. Ketika kita membicarakan metode atau langkah–langkah yang digunakan untuk menyelesaikan suatu soal, maka pertama kali yang harus diperhatikan adalah bagaimana langkah–langkah yang akan diterapkan dengan melihat bentuk dan situasi seperti apa metode tersebut dapat digunakan.

Baca   Investasi Mimpi dari Korea Selatan

Selanjutnya, ketika siswa belajar prosedur tanpa pemahaman konsep, siswa akan mengalami kesulitan untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Dalam hal ini siswa membutuhkan latihan yang luas agar tidak melupakan langkah–langkah. Konsekuensi lain ketika siswa belajar tanpa pemahaman adalah bahwa mereka memisahkan apa yang terjadi disekolah dan apa yang terjadi diluar sekolah (dikehidupan sehari–hari). Siswa memiliki satu set prosedur untuk memecahkan masalah diluar dan di dalam sekolah tanpa melihat relasi antara keduanya. Pemisahan ini membatasi kemampuan anak menerapkan apa yang telah mereka dapatkan untuk menyelesaikan masalah nyata.

Pada hakikatnya siswa telah mengorganisir pengetahuan mereka ke dalam satu kesatuan yang utuh, yang memungkinkan mereka untuk belajar pengetahuan baru dengan menghubungkan pengetahuan yang telah mereka punya. Tujuan mengaitkan ilmu pengetahuan yang telah mereka miliki dengan pengetahuan yang baru adalah agar mereka dapat mengingat ilmu tersebut lebih lama. Siswa dengan pemahaman konseptual tahu lebih banyak dari fakta–fakta yang terisolasi dan metode. Karena fakta dan metode belajar dengan pemahaman yang terhubung, siswa lebih mudah untuk diingat dan digunakan, serta dapat direkontruksi saat mereka lupa. Jika siswa memahami langkah–langkah untuk menyelesaikan suatu permasalahan, mereka tidak mungkin akan mengingat yang salah.

Sebagai tenaga pendidik harus menghindari kekeliruan dalam pembelajaran, misalnya dalam memberikan pemahaman konseptual dan prosedur yang salah kepada siswa. Karena penanaman konsep dan prosedur yang salah, ini akan berakibat fatal. Siswa akan terus menggunakan cara yang salah untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Pemahaman konseptual dan prosedural yang salah dapat diiibaratkan seperti racun bagi generasi, penanaman konsep dasar suatu ilmu dan prosedurnya haruslah dipahami betul oleh peserta didik sejak dini, jika tidak maka siswa tersebut terus mengembangkan pemahaman yang keliru dalam menyelesaikan suatu pemasalahan.

Baca   Ijazah Palsu dan Pembusukan Intelektual

Sebagai guru, hal tersebut adalah tuntutan yang harus dilaksanakan dan berusaha untuk menjadi tenaga pendidik profesional dan paham benar terhadap apa yang diinformasikan kepada siswa. Fakta dilapangan yang kerap terjadi adalah guru tingkat SMP mengeluh terhadap pemahaman pengetahuan dasar yang telah siswa dapatkan dibangku SD, ilustrasi yang mendasar misal siswa masih salah dalam penggunaan konsep operasi matematika (+, –, x dan : ).

Bahkan masih banyak peserta didik yang masih berada pada ranah pemahaman konseptual yang salah dan prosedural yang kacau. Kesadaran akan pentingnya tingkat intelektual sebagai tenaga pendidik adalah tanggung jawab memberi informasi yang benar. Dengan demikian pemahaman konseptual saja tidak cukup, guru juga harus menginformasikan prosedural yang benar dalam menyelesaikan suatu masalah. Perlu diperhatikan pemahaman konsep dan prosedur yang digunakan juga tergantung konteks masalah yang dihadapi. Selain itu tidak hanya mentransfer ilmu saja, namun guru seharusnya mampu mendeskripsikan manfaat ilmu dan memberikan contoh aplikasinya dalam memecahkan permasalahan dikehidupan sehari hari.

Penulis merupakan mahasiswa jurusan Pengajaran Matematika Pasca Sarjana Institut Teknlogi Bandung.


Berikan komentar tentang berita diatas?

Loading Facebook Comments ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *