Banda Aceh

Mahasiswa Desak Wali Untuk Jadi Khatib dan Imam Mesjid Raya

BANDA ACEH – Tidak kurang 30-an demonstran yang menamakan diri Suara Independen Mahasiswa Aceh (SIMA) kembali mendesak Wali Nanggroe, Paduka Yang Mulia Malik Mahmud Al-Haytar menjadi imam shalat maupun khatib jumat di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Demikian diberitakan oleh media Serambi hari ini.

Terkait berita sebelumnya Mahasiswa UIN Ar-Raniry Minta Wali Nanggroe Jadi Khatib dan Imam Masjid Raya, desakan yang sama juga disampaikan SIMA ketika berdemo di depan Gedung DPR Aceh, Selasa (9/9). Desakan yang sama juga mereka suarakan ketika demo di Bundaran Simpang Lima, Banda Aceh, Senin 1 Setember 2014.

Massa SIMA bergerak ke Gedung DPR Aceh sekitar pukul 09.30 WIB dan meminta Komisi A segera menyurati Wali Nanggroe, agar bersedia menjadi imam shalat sekaligus khatib jumat dalam pekan ini juga.

Pada aksi kemarin, mahasiswa juga mengusung sejumlah spanduk bertuliskan ‘cit ceramah wali yang kamoe preh-preh dalam situasi lagenyoe rupa’, ‘rakyat rindu wali jadi imam’, ‘waliku! Bukan waliku jika tak jadi imam’, dan tulisan ‘bek teungeut hai wali kamoe!’

Koordinator Aksi, Khairul Munadi kepada Serambi mengatakan tuntutan mereka tetap sama seperti aksi yang dilakukan sebelumnya. Hanya saja, kali ini mereka meminta ketegasan dari Komisi A DPRA untuk menyurati Wali Nanggroe agar bersedia menjadi imam maupun khatib di Masjid Raya Baiturrahman.

“Kami tidak minta yang muluk-muluk atau ada titipan yang sarat politik, misalnya meminta Gubernur Zaini Abdullah mundur atau meminta dana aspirasi anggota dewan. Tidak sama sekali! Tapi permintaan kami ini sangat wajar, sekaligus untuk menepis rumor yang katanya wali tidak bisa apa-apa. Karena itu, perlu dibuktikan kalau Wali Nanggroe Paduka Yang Mulia Malik Mahmud Al-Haytar kita itu dapat membuktikannya,” ungkap Khairul.

Baca   Enam Pelaku Seni Terima Anugerah dari Pemko Banda Aceh

Ia menyebutkan aksi itu murni aspirasi SIMA dan tidak ada kepentingan di balik unjuk rasa tersebut. “Ini juga untuk meng-counter isu yang mengatakan Wali Nanggroe tidak bersedia menjadi imam dan tidak pandai baca Alquran, karena sibuk dengan partai tertentu. Kami pikir inilah momennya Wali Nanggroe untuk menepis isu-isu itu,” ujar Khairul.

Pantauan Serambi, awalnya para demonstran itu tertahan di pintu gerbang karena tidak diizinkan masuk. Tapi, setelah melalui proses koordinasi yang dibantu pihak kepolisian, akhirnya Ketua DPRA Hasbi Abdullah, bersedia bertemu, tapi hanya lima perwakilan dari demonstran yang diperbolehkan ke ruang kerjanya.

Lima mahasiswa itupun diterima, termasuk koordinator aksi Khairul Munadi yang kemudian meminta Ketua DPRA itu turun sejenak sekadar menjelaskan secara langsung kepada seluruh pengunjuk rasa terkait aspirasi mereka.

Dalam penjelasannya itu, massa pengunjuk rasa itupun meminta sikap Ketua DPRA Hasbi Abdullah, terkait aksi yang mereka lakukan.

Ketua DPRA, Hasbi Abdullah menyatakan akan mengakomodir apa yang menjadi tuntutan mahasiswa. “Kami juga menyatakan mendukung aksi ini dan segera menyurati Wali Nanggroe terhadap tuntutan adik-adik mahasiswa ini,” kata Hasbi. Setelah mendapat penjelasan dari Ketua DPRA, massa pun membubarkan diri di bawah pengawalan polisi.(mir)


Berikan komentar tentang berita diatas?

Loading Facebook Comments ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *