Banda Aceh

Malaysia Akan Investasi $5 Juta di Aceh

BANDA ACEH – Stanleytoo Investment Consortium Ltd asal Malaysia tertarik dan ingin melakukan ‘joint venture’ dengan Pemerintah Aceh di sektor Pertanian. Bekerjasama dengan pengusaha lokal, konsorsium ini berencana akan berinvestasi sebesar US$ 5 juta di Aceh, dengan konsep mendirikan perusahaan baru bernama PT Aceh Economic Development Consortium.

Ketertarikan tersebut dikemukakan delegasi asal ‘negeri jiran’ itu yang dipimpin Too Cheng Huat dalam pertemuan dengan Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud Al-Haytar dan Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf di Restoran Banda Seafood, Banda Aceh, Senin (15/9/2014) malam.

Kedatangan rombongan dari Stanleytoo Investment Consortium Ltd ini difasilitasi oleh pengusaha Aceh di Penang yaitu Teungku Harun Penang. Selain itu, ada juga Jailani, pengusaha Aceh yang lama di Amerika Serikat.

“I hope you enjoy here in Aceh,” kata Wali Nanggroe Malik Mahmud. Wali mengatakan dukungannya untuk perusahaan Malaysia itu untuk berinvestasi guna menggairahkan perekonomian Aceh. Wali Nanggroe juga menyinggung soal hubungan dagang yang telah terjalin antara Aceh dan Malaysia, juga Singapura sejak lama.

“Orang Aceh ini sebenarnya adalah pedagang hebat, namun meredup akibat konflik. Orang tua saya juga semasa hidupnya adalah pedagang di Malaysia dan Singapura,” kata Malik Mahmud.

Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf juga memberikan sokongan penuh atas rencana investasi tersebut. Pria yang kerap disapa Mualem itu juga mengatakan bahwa Aceh juga potensial di sektor perindustrian, perdagangan dan pertanian. “Kami akan fasilitasi kebutuhan para investor. Saudara boleh lihat sendiri apa yang dibutuhkan di sini. Kami persilahkan berinvestasi di Aceh. Pemerintah Aceh akan support dan dukung,” kata Wagub.

Baca   4 Proyek Disepakati Pada Forum IMT-GT 2014

Ditegaskan Mualem, Aceh hari ini sudah sangat kondusif untuk iklim investor. “Nanti akan ada gas Arun yang bisa dimanfaatkan untuk industri. Untuk infrastruktur, Pemerintah Aceh sedang menjajaki pembukaan rute kapal Roro untuk mengangkut barang pertanian dengan rute Lhokseumawe-Langsa-Penang,” jelas Wagub.

“Juga ada peluang untuk mendirikan pabrik minyak goreng dan pengolahan ikan di Aceh. Selama ini sawit sebagai bahan baku minyak goreng banyak yang diangkut dan dijual ke Medan. Begitu juga dengan industri perikanan,” tambahnya.

Pimpinan Delegasi Stanleytoo Investment Consortium Ltd, Too Cheng Huat mengatakan, konsorsium yang connecting dengan para pengusaha dari Hongkong, China, Taiwan, dan Macau itu, akan fokus berinvestasi di Aceh di sektor pertanian tanaman pangan, misalnya supporting/mendanai kegiatan penanaman jagung dan padi.

“Akan bekerjasama dengan pengusaha lokal dengan membuat perusahaan baru bernama PT Aceh Economic Development Consortium yang 70 persen sahamnya milik orang Aceh, dan 30 persen lagi untuk kami. Kita akan danai penanaman jagung dan padi di lahan seluas 10 ribu hektar,” kata Too Cheng Huat.

Ia juga meyakini situasi Aceh sudah sangat kondusif. “Kami sudah mendapat informasi dari sejumlah orang keturunan China di Peunayong. Dari mereka kami mendapat masukan bahwa Aceh aman dan tidak ada diskriminasi etnis di sini. Apa yang kami lihat di sini membuat kami semakin yakin berinvestasi di Aceh,” ujar Too Cheng Huat, yang didampingi delegasi lainnya, yaitu Wong Yook Lim, Choo Chee Loong, Leong Wan Shin, Ooi Cheng Hoe, Chung Kin Hoong, Azman Bin Arif, Goh Lian Send an Wong Kok Mon. [sp]

Baca   Sang Ayah Harus Lewati Banjir Setinggi Leher Untuk Membawa Bayinya ke Rumah Sakit

 

sumber: atjehlink.com

Wartawan

acehpost.co.id adalah situs media berita Aceh terkini yang bertujuan untuk memberitakan informasi seputar Aceh, nasional, internasional, teknologi, agama Islam, dan sebagainya yang kami kemas dengan bahasa yang mudah dipahami, akurat, dan terkini.


Berikan komentar tentang berita diatas?

Loading Facebook Comments ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *