Opini

Membangun Ekonomi yang Berkeadilan

Hermansyah Kahir

acehpost.co.id – Opini | Sejak kemunculannya hingga kini kapitalisme terus menjadi sorotan dari berbagai pihak. Hal ini karena keberadaan kapitalisme dianggap sebagai penyebab dari pelbagai krisis ekonomi. Krisis yang terjadi pada September 2008 misalnya, dianggap sebagai krisis ekonomi terburuk sepanjang sejarah setelah The Great Depression 1930-an. Dan tragedi ini bisa saja terjadi lagi dan bahkan bisa lebih buruk di masa mendatang.

Jika kita melihat beberapa krisis keuangan global yang melanda negara-negara di Eropa, Amerika dan Asia, maka kita akan sampai pada kesimpulan bahwa penyebab dari semua itu adalah sistem ekonomi kapitalis yang berbasiskan bunga. Keadaan ini juga menjadi bukti konkret jika ideologi yang diusung kapitalisme sudah tidak mampu lagi memberikan kesejahteraan bagi umat manusia, bahkan banyak ekonom yang mengkritik sistem ini karena hanya menguntungkan para pemiliik modal sementara rakyat tetap hidup dalam kesengsaraan. Para kapitalis cenderung mengeksploitasi pekerja atau buruh sehingga menyebabkan mereka tetap berada dalam jurang kemiskinan.

Salah satu ekonom yang mengkritik adalah Umar Vadillo dari Scotlandia, dan juga penulis buku The Ends of Economics. Dia mengkritik secara tajam ketidakadilan sistem moneter kapitalisme. Menurutnya, kapitalisme justru telah melakukan ”perampokan” terhadap kekayaan negara-negara berkembang melalui sistem moneter fiat money yang sesungguhnya adalah riba.

Setidaknya ada dua alasan utama kenapa kapitalisme disebut-sebut sebagai biang keladi krisis keuangan global saat ini. Pertama, kapitalisme telah memperlebar kesenjangan pertumbuhan ekonomi masyarakat dunia yang mengakibatkan yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Kedua, kapitalisme telah menjajah negara-negara berkembang dengan jebakan hutang yang menyulitkan mereka dalam pembayaran bunga. Jangankan membayar utang pokoknya, membayar bunganya saja mereka keteteran. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mempertahankan hegemoninya terhadap negara-negara berkembang.

Baca   Mematikan Kegiatan Karnaval Di Aceh

 

Mencari Solusi
Melihat kegagalan kapitalisme dalam memberikan keadilan masyarakat di dunia mulai berpikir untuk mencari sistem ekonomi yang lebih resisten terhadap krisis dan tentu lebih memberikan keadilan kepada masyarakat. Saat ini masyarakat membutuhkan sebuah sistem yang tidak hanya menguntungkan pihak pemodal saja melainkan lebih dari itu adalah kesejahteraan yang dapat dirasakan semua pihak.

Tampaknya geliat masyarakat untuk memilih ekonomi Islam sebagai pengganti sistem kapitalisme tidak dapat dibendung lagi. Bukan hanya negara-negara Islam saja, tetapi negara Eropa dan Amerika sudah banyak menggunakan produk dan jasa keuangan yang melarang keras adanya bunga. Semakin menjamurnya lembaga keuangan syariah dan banyaknya perguruan tinggi yang membuka jurusan ekonomi dan keuangan syariah sudah cukup menjadi bukti bahwa ekonomi Islam bukan lagi sebagai alternatif, melainkan sudah menjadi pilihan utama masyarakat baik Muslim maupun non-Muslim.

Salah satu tujuan penting yang diemban ekonomi Islam adalah terciptanya keadilan secara merata di kalangan masyarakat. Dan secara garis besar, tujuan ini memiliki titik temu dengan sistem ekonomi Indonesia yang berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945. Titik temu itu ada pada usaha untuk mencapai keadilan dan kesejahteraan bersama.

Adil di sini bukan hanya untuk segelintir orang, namun keadilan untuk semua, adil bagi seluruh pelaku ekonomi. Keadilan ini merupakan pesan Tuhan untuk segenap umat manusia di muka bumi. Guna mencapai itu semua, Tuhan telah memberikan seperangkat aturan dengan tujuan agar keadilan itu benar-benar dirasakan oleh masyarakat. Jika dalam ekonomi kapitalis yang diuntungkan adalah pemilik modal, maka berbeda dengan ekonomi Islam di mana setiap invidu harus menikmati hasil dari apa yang diusahakannya.

Baca   Kapankah Kita Wajib Berpuasa?

M. Dawam Rahardjo (2011) mengatakan, sistem ekonomi Islam tidak akan membawa seseorang kepada individualisme ekstrem yang hanya mementingkan diri sendiri tanpa memperdulikan masyarakat. Pengelolaan sumberdaya alam dalam Islam diikat oleh beberapa syarat. Pertama, tidak melampaui batas sehingga membahayakan kesehatan dan kesejahteraan lahir batin; kedua, tidak boros, yaitu mengambil dari alam lebih dari yang diperlukan; ketiga, tidak mengabaikan hak-hak orang miskin; keempat, tidak menimbun kekayaan tanpa ada manfaat bagi sesama manusia.

Inilah konsep yang ditawarkan ekonomi Islam untuk memberikan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat, memberikan keadilan, kebersamaan serta mampu memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada setiap pelaku usaha. Jadi, tidak berlebihan jika masyarakat dunia saat ini menjatuhkan pilihan pada sistem ekonomi Islam yang telah membuktikan eksistensinya di tengah dominasi ekonomi kapitalis yang lambat laun terus terperangkap dalam jurang kehancuran.

Dengan demikian, ekonomi Islam harus mampu memanfaatkan momentum ini dan menunjukkan ke dunia bahwa ekonomi Islamlah yang bisa merespons pelbagai krisis ekonomi akibat sistem bunga (kapitalisme). Ketahanan ekonomi Islam terhadap krisis ekonomi menandakan era baru di mana ekonomi anti bunga ini bisa menjadi solusi yang tepat bagi keberlangsungan ekonomi yang berkeadilan bagi seluruh penduduk bumi. (Opini – Hermansyah Kahir).

Hermansyah Kahir

Hermansyah Kahir

Penulis:
Hermansyah Kahir
Penulis dan Peneliti Ekonomika Institute


Berikan komentar tentang berita diatas?

Loading Facebook Comments ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *