Lhokseumawe, Politik

Muzakir Manaf Kumpulkan 70 Eks Libya, Mengapa?

LHOKSEUMAWE – Perseteruan internal petinggi Partai Aceh (PA) kian terbuka dan sudah bukan lagi rahasia. Diakui atau tidak, aroma perpecahan terasa semakin kentara. Itu sebabnya, banyak pihak menilai, perjalanan Gubernur Aceh, dr. Zaini Abdullah V.S. Wakil Gubernur Muzakir Manaf dalam memimpin Aceh, akan semakin bergesek tajam. Demikian isi salah satu berita yang dikutip dari modusaceh.com.

Simak saja, setelah Tuha Peut PA Zaini Abdullah dan Zakaria Saman mengumpulkan 40 mantan pelatih (mualem) Teuntara Nanggroe Aceh (TNA—sayap militer) Gerakan Aceh Merdeka lulusan Libya, beberapa waktu lalu. Kini, giliran Muzakir Manaf melakukan langkah serupa. Boleh jadi, ini merupakan upaya menguatkan barisan dari masing-masing kubu yang berseteru dalam tubuh partai lokal itu.

Maklum, sebelumnya sempat berhembus selentingan bahwa upaya Tuha Peut akan melengserkan Muzakir Manaf dari posisi Ketua Umum PA. Tragisnya, sempat muncul desakan agar segera dilakukan Musyawarah Besar (Mubes) PA untuk merealisasikan tuntutan ini. Begitupun, media ini belum memperoleh informasi, terkait kepastian dari rencana Tuha Peut PA, Zaini Abdullah Cs, menggelar Mubes.

Yang jelas Tuha Peut seakan ingin menunjukkan taring ke publik bahwa mereka yang memegang kendali di tubuh Partai Aceh. Ini sejalan dengan apa yang dikatakan Gubernur Aceh Zaini Abdullah beberapa waktu lalu. Zaini menegaskan, Tuha Peut merupakan organ tertinggi dalam Partai Aceh.

Baca   Pertemuan Elite KPA di Meuligo Gubernur Aceh

“PA bukan milik pribadi atau pimpinan partai. Tuha Peuet adalah organ tertinggi dan memiliki hak veto di partai sesuai AD/ART,” terang Zaini Abdullah pada satu media online beberapa waktu lalu. Zaini menambahkan, kebijakan ketua umum terkait partai tanpa konsultasi dengan Tuha Peut, bukan keputusan partai.

Ntah karena itu pula Muzakir Manaf kemudian mengumpulkan sejumlah rekannya sesama alumni Libya di hall Hotel Lido Graha Lhokseumawe, Ahad, 3 Agustus 2014 lalu. Pertemuan puluhan mantan eks Libya itu berlangsung tertutup.

Konon, sejak tahun 1986 hingga 1989, ada 800-an pemuda Aceh dikirim ke Libya untuk mengikuti pelatihan militer di kamp Maktabah Tajurra, 10 kilometer dari Ibukota Libya, Tripoli. Di bawah kekuasaan mantan Presiden Muammar Khadafi, Libya menjadi tempat latihan bagi kelompok-kelompok gerakan revolusioner di dunia.

Boleh jadi, gebrakan Muzakir Manaf kali ini merupakan upaya tandingan, membendung gerakan Tuha Peut. Sebab dalam pertemuan pekan lalu, Wakil Gubernur Aceh ini menghimpun hampir dua kali lipat eks Libya. Dari jumlah mualem yang dikumpulkan Tuha Peut sebelumnya. Jumlahnya disebut-sebut mencapai 70 orang.

Memang bayang-bayang perpecahan sudah tercium sejak lama. Seteru dua kubu di tubuh partai lokal ini kian meruncing. Puncaknya, saat kedua pihak saling adu mulut di media massa. Itu disebabkan perbedaan kontras dalam Pemilihan Presiden 2014. Apalagi kalau bukan karena perkara dukung mendukung calon presiden (Capres).

Baca   Perlukah Jokowi Keluarkan Perpres untuk Golkar Agung Laksono?

Jauh hari Muzakir menegaskan posisinya sebagai Ketua Umum Partai Aceh, mendukung pasangan Capres Prabowo- Hatta. Sedangkan Tuha Peut punya pilihan berbeda. Mereka mendukung pasangan Capres Jokowi-Jusuf Kalla. Perbedaan inilah yang kemudian membuat dua kubu tadi saling melontarkan berbagai pernyataan di media massa.