Budaya dan Wisata

Objek Wisata Gampong Lubok Sukon

Objek Wisata Gampong Lubok Sukon

acehpost.co.id – Budaya dan Wisata | Hembusan angin terasa menyejukkan, pandanganpun tak menjadi silau, hal itu dinikmati ketika melangkah masuk dari gapura bertuliskan “selamat datang di desa wisata gampong Lubuk Sukun”. Tahun 2012, gampong ini dicanangkan menjadi desa wisata provinsi Aceh. Lalu diresmikan oleh kepala dinas kebudayaan dan pariwisata Aceh, Jasman J Ma’ruf pada awal bulan oktober 2012, sebagai ikon Aceh dalam dunia pariwisata. Ada kriteria khusus yang dimiliki gampong lubok sukon, disamping menjaga keaslian adat dan budaya Aceh, gampong ini juga memiliki tata letak dan tata ruang yang asli dan juga masih menjaga bentuk-bentuk tradisi Aceh, baik itu dari segi bentuk rumah, kebiasaan masyarakat Aceh, dan lingkungan yang masih alami.

Sebelum terpilih menjadi desa wisata, belakangan desa ini sudah dua kali memenangkan desa teladan juara pertama tingkat provinsi yang diikuti oleh beberapa gampong lainnya di Aceh. Lubok sukon masih tinggi rasa sosialnya dan masih ada kegiatan hari besar islam dan tradisi masyarakat tradisional. Gampong Lubok Sukon memiliki luas sekitar 112 ha dengan jumlah penduduk sebanyak 920 jiwa.

Jauh sebelum gampong ini menjadi desa wisata yang menyajikan pemandangan keasrian budaya melalui rumah penduduk, ada tradisi turun temurun yang harus sering dijaga. “Ini rumah nenek saya,” ujar Ernawati saat ditemui acehpost.co.id dirumahnya. Matahari semakin terik disepenggalan galah, Ernawati bersama anak dan cucunya terlihat begitu santai dibawah keteduhan rumah aceh yang mereka tinggali. Menikmati angin sejuk dan kedamain gampong. Ernawati adalah asli penduduk gampong Sukon, namun karena pekerjaannya dia lama menetap di Banda Aceh, setelah jabatan dia berakhir erna kembali ke gampong halaman dan menetap dirumah orangtua yang sudah diwariskan kepadanya.

Baca   Alumni IKASPA Aceh Besar adakan Reuni di Saree

“Dulu waktu Muzakir Walad menjabat sebagai gubernur beliau memerintahkan kepada semua penduduk gampong untuk meyeragamkan rumah adat aceh, salah satu fungsinya saat itu adalah untuk menghindar dari datangnya banjir, dan menjaga keasrian adat dan budaya Aceh, Tambah Ernawati.

Gampong Lubuk bukan hanya sebatas julukan gampong teladan, terlihat jelas ketika kita memasuki area lokasi tersebut, kerapian dan kebersihan menarik minat pengunjung untuk berlama-lama berada di disukon. Keramahan penduduk terukir lewat senyum dan sapaan salam dari mereka. Selain itu Sampai sekarang pun masih ditemukan bentuk rumoh Aceh yang asli dan berbagai bentuk makanan khas wisata kuliner. Setelah ditetapkan sebagai desa wisata Aceh , berbagai turis yang datang boleh menginap di rumah-rumah penduduk dengan menikmati kebiasaan dan kehidupan masyarakat.

“Bukan hanya wisata lokal dan luar kota yang kemari tapi juga dari berbagai wisata asing yang ingin meneliti struktur bangunan rumah Aceh, mereka senang dengan rumah yang terbuat dari kayu” ujar Cut Rahmi Stesia (55) pemilik rumah Aceh yang banyak dikunjungi turis itu. “rumah ini peninggalan mertua saya, atas amanahnya untuk menjaga”, lanjut Ibu Cut Rahmi.

Semua penduduk mempunyai aktivitas masing-masing, jika bukan hari libur keadaan gampong begitu sunyi, karena kesibukan warga terkait propesinya. Penduduk gampong juga sering melakukan kegiatan lain seperti merangkai sirih, membuat payung pengantin, kasab, sulam, dan bebagai kesenian lain, oleh pesanan kota lain dan juga untuk perlombaan kerajinan aceh. Kegiatan ini sering dilakukan warga dibalai SKB yang khusus dibangun pemerintah untuk tempat khusus kerajinan dan keterampilan masyarakat gampong. Penduduk gampong terbilang produktif oleh kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan termasuk kegiatan pengajian yang rutin dilakukan dan balai putro phang menjadi salah satu wadah untuk melakukan pengajian dan aktivitas ibu-ibu PKK. (lhs/AP)


Berikan komentar tentang berita diatas?

Loading Facebook Comments ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *