Features

Potretmu adalah Semangat Hidupku

Potretmu adalah Semangat Hidupku

acehpost.co.id – Features | Potretmu adalah semangat hidupku. Terik matahari yang menyengat kulit tidaklah jadi halangan meneruskan pekerjaannya membuat alat-alat untuk kerangka bangunan dari kayu ataupun besi. Hanya sisa-sisa rasa lelah yang ada tergambar diraut wajahnya.

Sepak terjang angkuhnya roda kehidupan telah Firman lalui. Pemuda yang berumur 20 tahun itu tak hanya bekerja sebagai buruh bangunan yang telah ia jalani sejak berumur 14 tahun, menjadi nelayan pun telah menjadi pekerjaan sampingan yang dipilihnya guna mencukupi kehidupan hari-harinya.

Pagi hari sekitar pukul 08.00 Wib, sudah terdengar teriakan palu yang sangat riuh dikawasan rumah yang dibangunnya. Itu menandai aktivitas pekerjaannya telah dimulai. Badan Firman yang kecil berusaha mengumpulkan tenaga untuk menyusun kerangka besi bangunan yang ia sedang kerjakan. Tak pelak tetesan keringat pun bercucuran membasahi wajah dan seluruh tubuhnya. Bekerja banting tulang seperti itu harus mampu Firman lakukan sampai pukul 18.00 WIB. Untuk pekerjaannya itu Firman diberi upah kotor sebesar 75.000 rupiah per harinya. Setelah dipotong uang makan jadi upah bersih Firman sebesar 65.000 rupiah per hari.

“Saya cuma tamatan SD. Ya inilah kerja yang bisa saya lakukan untuk bisa bertahan hidup,” Ucap Firman, pemuda pekerja keras itu.

Lelaki yang tinggal di Perumnas Ujung Bate itu dulunya hidup bersama ibunya di sebuah rumah kontrakan. Semenjak Firman umur 14 tahun ibunya pun meninggal dunia dan semenjak itulah Firman mulai berjuang keras mencari uang untuk kebutuhan hidupnya, kerja kulih bangunan pun menjadi pilihan pekerjaannya.

Baca   Sikap Mulia Seorang Fotografer di Mesjid Raya Baiturrahman

Meskipun Firman masih berusia muda tetapi ia seorang pemuda yang memiliki sosialisasi tinggi dengan masyarakat di kampungnya. Ia dikenal seorang yang baik dan rajin. Selepas pulang dari kerja, Firman mengisi waktu malamnya dengan mengajari anak-anak di kampung itu membaca Al-quran, Ia tidak ingin ketinggalan dalam berburu amal untuk bekal di Akhirat kelak. Baginya, walau ia miskin harta di Dunia, Ia tidak ingin miskin di Akhirat kelak. Ia selalu ingin menjalani hari-harinya menjadi semakin lebih baik. Walaupun ia tidak bisa sekolah seperti orang-orang lain tetapi Firman banyak mengetahui ilmu tentang Agama. Hal itu ia peroleh dari almarhuma ibunya yang seorang guru mengaji anak-anak dikampungnya. Firman pun mengikuti jejak baik ibunya itu.

Begitulah aktifitas kehidupan yang dijalani Firman sehari-hari, ia tidak pernah mengeluh apalagi berputus asa karena dibalik cobaan yang ia jalani pasti ada kebahagiaan, hal itu selalu menjadi prinsipnya. Disetiap ia sedih merenungkan kehidupan ini hanya pada potret almarhum ibunya yang menjadi curhatan hatinya, yang menggerakkan semangatnya untuk berjuang dalam menjalani hidup ini.

“Bagaimanapun juga saya tidak boleh lemah walaupun hidup sendiri harus tetap semangat menjalani hidup ini, saya yakin orang tua saya disana pasti bahagia melihat semangat hidupku ini”, kata Firman, dengan wajah agak sedih, mungkin mengingat orang tuanya.

Pemuda yang gemar mengaji ini juga mempunyai cita-cita yang luar biasa yakni menjadi seorang ustadz. Dalam hidupnya ia mau berbagi ilmu dengan orang lain dan melakukan perbuatan-perbuatan yang bermanfaat untuk diri sendiri dan juga untuk orang lain. dengan sifat kemandiriannya itu ia yakin bahwa cita-citanya akan terwujud.

Baca   Asam Keumamah Masakan Perang

“Saya hanya bisa terus berusaha dan berdo’a, insyaAllah rezeki itu akan datang dengan sendirinya. Keinginan saya tidak banyak, saya ingin melihat orang tua saya tersenyum disana,” tutup Firman.[rev/AP]


Berikan komentar tentang berita diatas?

Loading Facebook Comments ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *