Banda Aceh

PSSI Dibekukan Kemenpora, Pemain Persiraja Tuntut Hak Pemain

logo acehpost.co.id

Banda Aceh | Pemain Persiraja menuntut kejelasan nasibnya setelah kompetisi resmi dihentikan melalui rapat Exco PSSI Pusat. Masalah ini berawal dari kebijakan Kemenpora yang membekukan PSSI. Kemudian menyurati Mabes Polri untuk tak memberi izin terhadap setiap pertandingan di bawah PSSI. Imbasnya terhadap semua klub termasuk Persiraja yang juga konstestan Divisi Utama 2015.

Kapten Tim Persiraja, Kurniawan kepada Serambinews.com mengharapkan pengurus memikirkan nasib pemain meski kompetisi belum jelas. Karena pemain terkatung-katung di Mess di Lampineung. Mereka tak tersedia nasi untuk makan, dan pemain luar daerah tak punya uang pulang kampung. Seharusnya pengurus mengumpulkan dulu pemain untuk membicarakan keputusan terkait dihentikannya kompetisi. “Kami perlu kejelasan dari pengurus, apa bubar dulu, nanti kalau sudah jelas kompetisi kumpul lagi. Ini tidak jelas lagi setelah libur latihan tiga hari kemarin,” ujarnya didampingi beberapa pemain lain di Lampineung, Senin (04/05/2015).

Kepada pengurus Persiraja, Kurniawan meminta agar jangan lepas tangan atas kondisi yang dialami pemain. Ia juga mempertanyakan bagaimana kejelasan gaji pemain yang sudah membela Persiraja pada musim 2014. Begitu juga tentang kejelasan hak pemain musim 2015 yang sudah mencapai tiga bulan. Karena pemain sudah memenuhi kewajibannya dalam kompetisi musim 2014, tapi nyatanya hingga kini masih tertunggak lima bulan gaji. “Selama ini para pemain kalau ada masalah mengadu ke saya sebagai kapten tim, lalu saya tanya ke pengurus walau kadang jawabannya tak memuaskan,” ujarnya.

Baca   Sambut Isra’ Mi’raj, Puluhan Warga Gampong Peulanggahan Gotong Royong

Sebagian pemain, kata Kurniawan, ada yang sudah berkeluarga dan punya anak. Tentu saja mereka butuh biaya untuk keputuhan sehari-hari. Karena sepakbola ini sudah menjadi pekerjaan yang dilakoni mereka. Bahkan untuk memenuhi kebutuhannya hampir semua pemain terpaksa main di turnamen antarkampung (tarkam). Pendapatan pemain di tarkam cukup lumayan untuk kebutuhan sehari-hari yang dibayar Rp 200 ribu hingga Rp 250 ribu sekali tanding. “Karena kalau mengharapkan dari Persiraja musim ini belum ada. Paling sumbangan, seperti dari Awak Away Persiraja. Pemasukan dari sponsor kami tidak tahu,” ujarnya.

Mewakili pemain, Kurniawan secara tegas mengatakan, seharusnya sejak awal kalau memang pengurus tak sanggup lepas saja, dan kasih kepada orang lainnya. Jangan cuma bilang sudah telanjur pegang Persiraja, tapi tak mau menyerahkan kepada orang lain yang sanggup. Kalau begini pemain dan tim yang menjadi korban. Kalau mengurus tim yang sudah ada uang semua orang bisa. Seharusnya pengurus itu kalau tidak ada uang bisa menangani dulu, tapi ternyata tak bisa walau hanya untuk ongkos pemain pulang kampung. “Sebelumnya harapan kami agar pengurus lebih bagus dari tahun sebelumnya, hak-hak pemain diutamakan juga, tapi ini sama saja,” ujarnya.


Berikan komentar tentang berita diatas?

Loading Facebook Comments ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *