Budaya dan Wisata

Sejarah Lengkap Aceh dan Bahasa Aceh

Provinsi Aceh
Aceh pertama dikenal dengan nama Aceh Darussalam (tahun 1511–1959), kemudian Daerah Istimewa Aceh (tahun 1959–2001), Nanggroe Aceh Darussalam (tahun 2001–2009), dan Aceh (2009–sekarang).

Negara: Indonesia
Hari jadi: 7 Desember 1959
Dasar hukum: UU RI No. 24/1956
UU RI No. 44/1999
UU RI No. 18/2001
UU RI No. 11/2006 (Pemerintahan Aceh)

Ibu kota: Banda Aceh
Koordinat:
1º 40′ – 6º 30′ LU
94º 40′ – 98º 30′ BT

Total Area: 58.375.63 km2 (22,538.96 mil²)

Populasi (2010)
Total: 4,494,410
Kepadatan: 77/km2 (200/sq mi)

Demografi
Suku bangsa: Aceh (50,32%), Jawa (15,87%), Gayo (11,46%), Alas (3,89%), Singkil (2,55%), Simeulue (2,47%), Batak (2,26%), Minangkabau (1,09%), Lain-lain (10,09%)
Agama: Islam (98,5%), Kristen (1.1%), lainnya (0.5%)
Bahasa: Aceh, Gayo, Aneuk Jamee, Singkil, Alas, Tamiang, Kluet, Devayan, Sigulai, Pakpak, Haloban, Lekon, Nias dan Indonesia.
Kabupaten: 18
Kota: 5
Kecamatan: 276
Desa/kelurahan: 6.455
Lagu daerah: Bungong Jeumpa

Sejarah Nama Aceh
Aceh adalah provinsi yang terletak di ujung Pulau Sumatera, Indonesia diantara Samudera Hindia dan Selat Malaka sangat dikenal dengan adat istiadat dan kekayaan alamnya. Provinsi ini pun dikenal sebagai provinsi yang masyarakatnya sangat taat beribadah dan salah satu provinsi yang menerapkan hukum Syariat Islam di Indonesia.

Sekitar akhir abad ke-19, menjelang peperangan yang bakal menumpahkan darah di seluruh bagian utara Sumatra, nama tanah Aceh dipakai untuk menunjukkan seluruh daerah yag membentang dari ujung utara pulau itu sampai dengan suatu garis khayal yang menghubungkan Tamiang di pantai Timur dengan Barus di Pantai Barat. Menurut Snouck Hurgronje, penduduknya membandingkan bentuk wilayah mereka yang kira-kira menyerupai segi tiga itu dengan bentuk jeuèe (tampah tradisional).

Aceh merupakan sebuah nama dengan berbagai legenda dan mitos, sebuah bangsa yang sudah dikenal dunia internasional sejak berdirinya kerajaan poli di Aceh Pidie dan mencapai puncak kejayaan dan masa keemasan pada zaman Kerajaan Aceh Darussalam di masa pemerintahan Sulthan Iskandar Muda hingga berakhirnya kesulthanan Aceh pada tahun 1903 di masa Sulthan Muhammad Daud Syah.

Walau dalam masa 42 tahun sejak 1903 s/d 1945 Aceh tanpa pemimpin, Aceh tetap berdiri dan terus berjuang mempertahankan kemerdekaannya dari tangan Belanda dan Jepang yang dipimpin oleh para bangsawan, hulubalang dan para pahlawan Aceh seperti Tgk Umar, Cut Nyak Dhien dan lain-lain dan juga Aceh mempunyai andil yang sangat besar dalam mempertahankan Nusantara ini dengan pengorbanan rakyat dan harta benda yang sudah tak terhitung nilainya hingga Aceh bergabung dengan Indonesia karena janji manis dan air mata buaya Soekarno yang disampaikan kepada Daud Beureueh.

Beberapa mitos tentang nama Aceh
1. Menurut H. Muhammad Said (1972), sejak abad pertama Masehi, Aceh sudah menjadi jalur perdagangan internasional. Pelabuhan Aceh menjadi salah satu tempat singgah para pelintas. Malah ada di antara mereka yang kemudian menetap. Interaksi berbagai suku bangsa kemudian membuat wajah Aceh semakin majemuk. Sepeti dikutip oleh H.M. Said (Pengarang Buku Aceh Sepanjang Abad) catatan Thomas Braddel yang menyebutkan, di zaman Yunani, orang-orang Eropa mendapat rempah-rempah Timur dari saudagar Iskandariah, Bandar Mesir terbesar di pantai Laut Tengah kala itu. Tetapi, rempah-rempah tersebut bukanlah asli Iskandariah, melainkan mereka peroleh dari orang Arab Saba.Orang-orang Arab Saba mengangkut rempah-rempah tersebut dari Barygaza atau dari pantai Malabar India dan dari pelabuhan-pelabuhan lainnya. Sebelum diangkut ke negeri mereka, rempah-rempah tersebut dikumpulkan di Pelabuhan Aceh.

2. Raden Hoesein Djajadiningrat dalam bukunya Kesultanan Aceh (Terjemahan Teuku Hamid, 1982/1983) menyebutkan bahwa berita-berita tentang Aceh sebelum abad ke-16 Masehi dan mengenai asal-usul pembentukan Kerajaan Aceh sangat bersimpang-siur dan terpencar-pencar.

3. HM. Zainuddin (1961) dalam bukunya Tarich Aceh dan Nusantara, menyebutkan bahwa bangsa Aceh termasuk dalam rumpun bangsa Melayu, yaitu; Mantee (Bante), Lanun, Sakai Jakun, Semang (orang laut), Senui dan lain sebagainya, yang berasal dari negeri Perak dan Pahang di tanah Semenanjung Melayu.Semua bangsa tersebut erat hubungannya dengan bangsa Phonesia dari Babylonia dan bangsa Dravida di lembah sungai Indus dan Gangga, India. Bangsa Mante di Aceh awalnya mendiami Aceh Besar, khususnya di Kampung Seumileuk, yang juga disebut Gampong Rumoh Dua Blah. Letak kampung tersebut di atas Seulimum, antara Jantho danTangse. Seumileuk artinya dataran yang luas. Bangsa Mante inilah yang terus berkembang menjadi penduduk Aceh Lhee Sagoe (di Aceh Besar) yang kemudian ikut berpindah ke tempat-tempat lainnya. Sesudah tahun 400 Masehi, orang mulai menyebut ”Aceh” dengan sebutan Rami atau Ramni. Orang-orang dari Tiongkok menyebutnya lan li, lanwu li, nam wu li, dan nan poli yang nama sebenarnya menurut bahasa Aceh adalah Lam M ri. Sementara orang Melayu menyebutnya Lam Bri (Lamiri). Dalam catatan Gerini, nama Lambri adalah pengganti dari Rambri (Negeri Rama) yang terletak di Arakan (antara India Belakang dan Birma), yang merupakan perubahan dari sebutan Rama Bar atau Rama Bari.

Baca   Antropolog Aceh : Snouck Hurgronje Rusak Sejarah Aceh

4. Rouffaer, salah seorang penulis sejarah, menyatakan kata al Ramni atau al Rami diduga merupakan lafal yang salah dari kata-kata Ramana. Setelah kedatangan orang portugis mereka lebih suka menyebut orang Aceh dengan Acehm.

5. Sementara orang Arab menyebutnya Asji. Penulis-penulis Perancis menyebut nama Aceh dengan Acehm, Acin, Acheh ; orang-orang Inggris menyebutnya Atcheen, Acheen, Achin. Orang-orang Belanda menyebutnya Achem, Achim, Atchin, Atchein, Atjin, Atsjiem, Atsjeh, dan Atjeh. Orang Aceh sendiri, kala itu menyebutnya Atjeh.

6. Informasi tentang asal-muasal nama Aceh memang banyak ragamnya. Dalam versi lain, asal-usul nama Aceh lebih banyak diceritakan dalam mythe, cerita-cerita lama, mirip dongeng. Di antaranya, dikisahkan zaman dahulu, sebuah kapal Gujarat (India) berlayar ke Aceh dan tiba di Sungai Tjidaih (baca: ceudaih yang bermakna cantik, kini disebut Krueng Aceh).Para anak buah kapal (ABK) itu pun kemudian naik ke darat menuju Kampung Pande. Namun, dalam perjalanan tiba-tiba mereka kehujanan dan berteduh di bawah sebuah pohon. Mereka memuji kerindangan pohon itu dengan sebutan, Aca, Aca, Aca, yang artinya indah, indah, indah. Menurut Hoesein Djajadiningrat, pohon itu bernama bak si aceh-aceh di Kampung Pande (dahulu),Meunasah Kandang. Dari kata Aca itulah lahir nama Aceh.

7. Dalam versi lain diceritakan tentang perjalanan Budha ke Indo China dan kepulauan Melayu. Ketika sang budiman itu sampai di perairan Aceh, ia melihat cahaya aneka warna di atas sebuah gunung. Ia pun berseru “Acchera Vaata Bho” (baca: Acaram Bata Bho, alangkah indahnya). Dari kata itulah lahir nama Aceh. Yang dimaksud dengan gunung cahaya tadi adalah ujung batu putih dekat Pasai.

8. Dalam cerita lain disebutkan, ada dua orang kakak beradik sedang mandi di sungai. Sang adik sedang hamil. Tiba-tiba hanyut sebuah rakit pohon pisang. Di atasnya tergeletak sesuatu yang bergerak-gerak. Kedua putri itu lalu berenang dan mengambilnya. Ternyata yang bergerak itu adalah seorang bayi. Sang kakak berkata pada adiknya “Berikan ia padaku karena kamu sudah mengandung dan aku belum. ”Permintaan itu pun dikabulkan oleh sang adik. Sang kakak lalu membawa pulang bayi itu ke rumahnya. Dan, ia pun berdiam diri di atas balai-balai yang di bawahnya terdapat perapian (madeueng) selama 44 hari, layaknya orang yang baru melahirkan. Ketika bayi itu diturunkan dari rumah, seisi kampung menjadi heran dan mengatakan: adoe nyang mume, a nyang ceh (Maksudnya si adik yang hamil, tapi si kakak yang melahirkan).

9. Mitos lainnya menceritakan bahwa pada zaman dahulu ada seorang anak raja yang sedang berlayar, dengan suatu sebab kapalnya karam. Ia terdampar ke tepi pantai, di bawah sebatang pohon yang oleh penduduk setempat dinamaipohon aceh. Nama pohon itulah yang kemudian ditabalkan menjadi nama Aceh.

10. Talson menceritakan, pada suatu masa seorang puteri Hindu hilang, lari dari negerinya, tetapi abangnya kemudian menemukannya kembali di Aceh. Ia mengatakan kepada penduduk di sana bahwa puteri itu aji, yang artinya ”adik”. Sejak itulah putri itu diangkat menjadi pemimpin mereka, dan nama aji dijadikan sebagai nama daerah, yang kemudian secara berangsur-angsur berubah menjadi Aceh.

Baca   Incar 12 Juta Wisatawan, Ini Pesan Menteri Pariwisata RI

11. Mitos lainnya yang hidup di kalangan rakyat Aceh, menyebutkan istilah Aceh berasal dari sebuah kejadian, yaitu istri raja yang sedang hamil, lalu melahirkan. Oleh penduduk saat itu disebut ka ceh yang artinya telah lahir. Dan, dari sinilah asal kata Aceh.

12. Kisah lainnya menceritakan tentang karakter bangsa Aceh yang tidak mudah pecah. Hal ini diterjemahkan dari rangkaian kata a yang artinya tidak, dan ceh yang artinya pecah. Jadi, kata aceh bermakna tidak pecah.

13. Di kalangan peneliti sejarah dan antropologi, asal-usul bangsa Aceh adalah dari suku Mantir (Mantee, bahasa Aceh) yang hidup di rimba raya Aceh. Suku ini mempunyai ciri-ciri dan postur tubuh yang agak kecil dibandingkan dengan orang Aceh sekarang. Diduga suku Manteu ini mempunyai kaitan dengan suku bangsa Mantera di Malaka, bagian dari bangsa Khmer dari Hindia Belakang.

14. Denis Lombard menyebutkan bahwa nama Aceh baru disebut dengan pasti sekali dalam Suma Oriental yang dikarang di Malaka sekitar tahun 1950 oleh Tomé Pires yang berkebangsaan Portugis. Lombard selanjutnya mengatakan bahwa kata Aceh dieja Achei. Beberapa tahun kemudian, dalam buku yang ditulis oleh Barros yang berjudul Da Asia disebutkan bahwa pengejaan kata Aceh dengan Achei telah mengalami perubahan yang berbentuk adanya penyengauan bunyi pada akhir kata, yaitu Achem. Penyengauan bunyi ini juga terdapat dalam naskah-naskah Eropa abad 16, 17, dan 18. Di dalam naskah-naskah Eropa pada abad-abad ini kata Aceh di eja Achin dan Atchin. Dalam sistem transkripsi ilmiah yang dikemukakan oleh L.C. Damais, kata Aceh ditulis Acih. Lombard mengungkapkan bahwa penulisan kata Aceh dengan Acih adalah penulisan yang sangat tepat jika ditinjau secara ilmiah. Dalam hal ini, Lombard memberikan alasan sebagai berikut.

Selanjutnya, sekitar akhir abad ke-19, menjelang peperangan yang bakal menumpahkan darah di seluruh bagian utara Sumatra, nama tanah Aceh dipakai untuk menunjukkan seluruh daerah yag membentang dari ujung utara pulau itu sampai dengan suatu garis khayal yang menghubungkan Tamiang di pantai Timur dengan Barus di Pantai Barat. Menurut Snouck Hurgronje, penduduknya membandingkan bentuk wilayah mereka yang kira-kira menyerupai segi tiga itu dengan bentuk jeuèe (tampah tradisional).

Sejarah Bahasa Aceh
Sebenarnya banyak hal yang belum diketahui dari Aceh. Provinsi ini seolah menyimpan misteri yang tampaknya tak akan habis diungkap sampai dengan akhir zaman nanti.

Banyak peneliti yang telah melakukan penelitian. Hasil penelitian mereka menyebutkan bahwa bahasa Aceh ada kaitannya dengan bahasa-bahasa Campa yang sampai sekarang masih digunakan di Vietnam, Kamboja, dan Hainan di Cina. Adanya hubungan bahasa Aceh dengan bahasa-bahasa Campa yang ada di Vietnam, Kamboja, dan Hainan di Cina tampaknya cukup beralasan. Berdasarkan catatan sejarah, seorang pangeran dari Campa, Šah Pu Liaŋ (liŋ) diusir dari ibukotanya oleh bangsa Vietnam. Ia lalu mencari perlindungan di Aceh, lalu membentuk wangsa baru (Lombard, 2007:62). Tentu saja pembentukan wangsa baru ini sangat berpengaruh terhadap pemakaian bahasa Aceh sebagai alat komunikasi mereka.

Ada juga para ahli yang menyebutkan bahwa bahasa Aceh ada kaitannya dengan bahasa-bahasa daerah yang ada di Indonesia, seperti bahasa Arab, Melayu, Indonesia, Sanskrit, Persia, Tamil, Belanda, Portugis, Inggris dan dari bahasa Mon-Khmer di Asia Tenggara.

Penjelasan di atas membuktikan bahwa Aceh sebetulnya sejak dulu telah memiliki hubungan dengan bangsa-bangsa luar. Hal ini tentu saja tak dapat dipungkiri apalagi jika kita mengingat Aceh yang pada masa Sultan Iskandar Muda pernah mencapai puncak kejayaannya.

Salah satu keunikan bahasa Aceh yakni pada aspek fonologi atau bunyi bahasa. Bahasa Aceh memiliki jumlah fonem yang lebih banyak jika dibandingkan misalnya dengan bahasa Indonesia. Keunikan lain misalnya pada aspek kosakata. Bahasa Aceh memiliki kosakata dengan suku kata yang pada umumnya terdiri atas satu sampai dengan dua suku kata. Singkatnya, kosakata bahasa Aceh terlihat begitu simpel alias sederhana, contoh
ie = air
bu = nasi
u = kelapa, dan masih banyak lagi hal-hal yang menunjukkan kecenderungan seperti itu.

Baca   Objek Wisata Gampong Lubok Sukon

Memang, di dalam bahasa Aceh dapat kita temukan kosakata bahasa Arab, misalnya kata sikin yang mempunyai makna ‘pisau’. Kata sikin dengan makna yang sama juga ada di dalam bahasa Arab. Akan tetapi, pembuktian secara ilmiah perlu dilakukan terutama untuk menghitung persentase kosakata bahasa Arab yang ada di dalam bahasa Aceh. Hal serupa juga untuk kata get yang berarti ‘baik’ dalam bahasa Aceh. Sebagian orang lalu berpendapat bahwa kata tersebut berasal dari bahasa Inggris karena memiliki korelasi dengan kata good yang juga berarti ‘baik’. Hal-hal seperti itu hampir pasti terjadi pada setiap bahasa daerah. Apalagi perbedaan budaya yang lalu menyebabkan peminjaman kosakata dari budaya lain di sebuah penutur bahasa yang berbeda. Pada sisi ilmiah, kekerabatan bahasa lebih memungkinkan apabila bahasa-bahasa tersebut berada dalam satu rumpun bahasa yang sama. Sekadar pembaca ketahui, bahasa Aceh termasuk rumpun Austronesia, bahasa Cina termasuk rumpun bahasa Sino Tibet, sementara bahasa Arab termasuk rumpun Afro Asiatik/ Semit; bahasa Inggris termasuk rumpun Indo Eropa, dan bahasa India termasuk rumpun Dravida. Jelas bahwa setiap bahasa yang diplesetkan tadi memiliki perbedaan rumpun. Oleh karena itu, sangat mustahil apabila menjadikan keempat wilayah (Arab, Cina, Eropa, Hindia) sebagai negeri asal bahasa Aceh.

Pendapat yang agak ilmiah tentang negeri asal bahasa Aceh mengatakan bahwa bahasa Aceh berasal dari Kerajaan Campa, yang saat ini masuk dalam wilayah negara Vietnam. Pendapat ini didasarkan atas kesamaan kosakata di antara bahasa Aceh dengan bahasa di Kerajaan Campa tersebut. Pendapat ini ditulis dalam sebuah buku dengan penjelasan pada sisi ilmiah yang sangat terbatas. Salah satu sisi yang disebutkan di dalam buku tersebut mengenai sisi historis. Dimungkinkan bahwa dahulu terjadi proses migrasi penduduk dari Kerajaan Campa di Vietnam tersebut yang akhirnya mereka sampai di semenanjung Sumatera, yaitu di Aceh saat ini. Akan tetapi, pendapat kedua ini perlu pembuktian lebih lanjut. Pembuktian tersebut untuk menguji dugaan sementara (hipotesis) tentang benar tidaknya kosakata bahasa Aceh memiliki banyak kemiripan dengan kosakata di Kerajaan Campa, Vietnam tersebut. Pengujian tersebut akan lebih sahih apabila menggunakan metode ilmiah.

Linguistik atau ilmu bahasa memiliki salah satu bidang terapan yaitu Linguistik Bandingan. Linguistik bandingan terbagi ke dalam dua jenis yaitu Linguistik Historis Komparatif dan Linguistik Historis Tipologis. Pendapat tentang hubungan kekerabatan bahasa Aceh dengan bahasa di Kerajaan Campa, Vietnam, dapat ditelusuri dengan melakukan perbandingan kosakata. Saat ini yang paling populer untuk melakukan perbandingan yaitu berupa daftar kosakata dasar. Kosakata dasar yang sering digunakan untuk perbandingan bahasa yaitu 800 kosakata dasar yang dibuat oleh seorang bernama Swadesh. Kosakata dasar ini meliputi berbagai ranah, misalnya pertanian, nelayan, atau peralatan-peralatan yang mencakup bidang tertentu. Bidang nelayan misalnya, perbandingan dilakukan terhadap nama-nama ikan atau nama-nama kapal nelayan beserta alat tangkap yang biasa digunakan oleh mereka. Masih banyak ranah lain tentang bahan untuk perbandingan bahasa yang terdapat di dalam daftar 800 kosakata dasar tersebut. Sayangnya, sampai saat ini hal tersebut belum dilakukan secara komprehensif.

Semoga Artikel Sejarah Lengkap Aceh dan Bahasa Aceh ini bisa menambah referensi pembaca dalam memahami dan mempelajari sejarah Aceh dan mengenal Aceh lebih baik.

Referensi:
galeriabiee
Safriandi, S.Pd.
Teguh Santoso
Wikipedia


Berikan komentar tentang berita diatas?

Loading Facebook Comments ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *